Kamis, Agustus 18, 2011

Pendidikan Ramadhan Menuju Taq’wa
      Hai orang - orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang    sebelum kamu, agar kamu (menjadi hamba yang) bertaqwa “berbakti”  (Qs : Al-Baqarah, 183) 
          Yang dimaksud berpuasa adalah usaha untuk menahan dan mengendalikan diri dari dorongan  keinginan yang kuat atau yang disebut nafsu, dorongan nafsu yang paling kuat yang terdapat pada diri setiap manusia diantara lain adalah nafsu makan dan minum, nafsu syahwat, nafsu terhadap harta benda , kemewahan, kehormatan dan lain sebagainya,  nafsu–nafsu ini dalam ajaran agama Islam tidak boleh dilenyapkan  karena tanpa nafsu   maka manusia akan lenyap  dimuka bumi ini dan hidup ini juga  akan terasa tidak bermakna , akan tetapi nafsu  ini harus dikendalikan dan diselaraskan sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah SWT serta tuntunan yang dicontohkan oleh Rasullullah.
   Diwajibkannya umat Islam untuk berpuasa disetiap bulan suci ramadhan adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT Rabb (Pemilik) dan Illaha (Penguasa/Yang Kuasa) dialam semesta ini yang telah berkenan menyampaikan petunjuk dan bimbinganNya langsung kepada manusia melalui Al-Qur’an. Juga bertujuan sebagai moment/waktu  untuk mengingatkan dan pelatihan agar setiap umat Islam  bisa menahan serta mengendalikan dorongan  nafsu-nafsu   tersebut  sehingga menghasilkan  alumni ramadhan yang mampu mengendalikan diri dari keinginan  buruk yang dapat menganiaya dirinya sendiri maupun menganiaya orang lain, juga melatih sifat  sabar, inilah kunci dari ketenangan dan ketentraman jiwa setiap manusia,
Perlu dipahami secara bijak  bahwasanya setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada umat Islam pastilah mengandung tujuan  yang mulia dan bermanfaat bagi kepentingan manusia itu sendiri, baik kepentingan kehidupan didunia ini juga kehidupan setelah ini,  bukan hanya sekedar rutinitas, seremonial atau ritual  tanpa makna yang dilakukan berulang–ulang, akan tetapi setiap ibadah  yang diperintahkan oleh Allah SWT tentulah memiliki tujuan diantaranya  adalah suatu pendidikan atau sarana latihan sebagai antisipasi dan immunisasi untuk menghadapi berbagai rintangan dan cobaan didalam mengarungi kehidupan ini dan  yang pasti akan lebih terasa bermanfaat  ketika seseorang  menghadapi  tahapan perjalanan selanjutnya seperti , sakaratul maut, alam kubur, padang mahsyar, hisab, karena orang yang berjalan atau mengamalkan sesuatu tanpa mengetahui tujuannya itulah yang dimaksud dengan tersesat.
 Kematian bukanlah akhir dari perjalanan kehidupan jiwa manusia, tetapi justru adalah awal dari suatu perjalanan panjang yang berkelanjutan, jika dalam kehidupan didunia  manusia diberikan nikmat dan penderitaan silih berganti namun setelah kematian  bagi manusia yang diberi pertolongan dan petunjuk Allah SWT maka mereka akan memperoleh kenikmatan yang berkepanjangan, sedangkan orang–orang yang dimurkai  atau yang sesat akan mendapat penderitaan  hingga batas waktu yang tidak diketahuinya,  kita berkeyakinan bahwa , mustahil Allah SWT memerintahkan sesuatu yang sia–sia pada diri kita, karena kesia–siaan itu adalah pekerjaan dan perintah dari iblis, sedangkan perintah–perintah Allah SWT adalah dalam rangka untuk mengingatkan manusia  yang lalai hingga terbelenggu oleh  rantai kebutuhan untuk kepentingan duniawi  yang bersifat sesaat atau manusia yang hidupnya  berorientasi pada pemenuhan hasrat  duniawinya  tanpa terbebankan oleh kepastian bahwa, ia akan mati dan suka atau tidak suka akan meninggalkan semua yang dimiliki dan dikuasainya serta  akan diminta pertanggung _jawaban kelak.     
Sesungguhnya sangatlah erat tujuan dari korelasi antara ibadah shalat, ibadah puasa dan kewajiban memahami Al- Qur’an, jika shalat adalah ibadah yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar  maka ibadah puasa dapat membentuk seseorang menjadi hamba yang bertaqwa sedangkan Al-Qur’an adalah petunjuk dan pedoman bagi orang yang  bertaqwa pada Allah SWT. Ingatlah Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah SWT atas dasar kejujuran dan keridhaanNya,  disampaikan oleh malaikat yang jujur, kepada seorang Nabi yang terkenal jujur dan ikhlas/rela, amanah  tabligh dan lain-lain, yang selanjutnya  Al-Qur’an itu akan diwariskan kepada orang  yang jujur dan ikhlas/rela pula yaitu kepada hamba-hamba yang telah disucikan hati dan pikirannya terlebih dahulu.
Ketahuilah, Allah SWT tidak meminta imbalan/ upah dalam menyampaikan Al-Qur’an kepada Nabi dan Nabi juga tidak meminta upah dalam rangka menyampaikan Al-Qur’an dan ajaran  Islam kepada manusia, yang beliau harapkan hanyalah kepatuhan demi keselamatan dan kebahagiaan  manusia  itu sendiri baik didunia ini maupun  diakhirat, 
Sinonim yang hampir mendekati dari kata “ taqwa ” itu sendiri adalah “ bakti “, seseorang yang mengabdi/menghamba pada sesuatu maka tak jarang ia mengharapkan upah atau imbalan dari pengabdiannya dan akan labil  jika tidak mendapatkan sesuai yang diharapkan, sedangkan kata bakti maka disitu tersirat makna kejujuran, pengorbanan, keikhlasan, kesungguhan dan semata hanya mengharapkan belas kasih dan keridhaan Allah SWT , bukan mencari kekayaan, kedudukan atau nama besar yang bersifat duniawi, lagipula ajaran agama bukanlah sebuah proyek karena banyak orang yang membutuhkan,  agama  adalah wadah bagi setiap penganutnya  untuk mengabdi dan berbakti kepada Penciptanya dengan mengorbankan apa yang dimiliki  sesuai dengan kemampuan untuk kepentingan agama dan menolong sesama, bukanlah  manfaatkan agama untuk ambisi keduniawiannya.  
   Didalam perintah puasa itu sendiri sesungguhnya tersirat suatu materi pelajaran yang menjadi ruh dari rukun – rukun Iman dan Islam   yaitu : “ kejujuran dan kasih sayang antar sesama“, sebab tanpa sifat jujur dan kasih sayang yang terbentuk dihati setiap orang Islam maka otomatis gugurlah keImanan dan keIslamannya, karena keImanan dan   keIslamannya penuh dengan kebohongan dan kepalsuan, maka masuklah mereka dalam kategori orang  munafik “ penghianat “ dan  orang munafik  ini beribadah sama seperti layaknya orang Islam namun dilakukan dengan kebohongan, atau sekedar dilihat orang,  untuk cari nafkah atau kedudukan,  bukan suatu pengabdian yang tulus yang semata–mata mengharapkan keampunan dan keridhaan Allah SWT.
  Perbedaan yang mendasar antara orang  yang beragama Islam dan  orang munafik ialah terletak pada kejujuran dan kasih sayang, seorang yang beragama Islam itu pastilah jujur yang ciri–cirinya antara lain : jika berbicara dia benar, jika berjanji ditepati dan jika dipercaya akan amanah, dan akan memudahkan  urusan serta menolong  kesulitan orang lain yang membutuhkannya, sedangkan ciri–ciri orang munafik adalah sebaliknya yaitu seorang yang tidak jujur atau pendusta serta kikir yang mengaku–ngaku beragama Islam yang ciri–cirinya : jika berbicara dia berbohong, jika berjanji  diingkari, apabila dipercaya ia khianat   dan kerap mempersulit dan menyusahkan orang lain. 
Sesungguhnya orang – orang yang munafik ini memikul  dua dosa sekaligus yang pertama dosa atas ketidak jujurannya, keserakahan serta kedengkian  yang mengakibatkan teraniaya dirinya maupun orang lain, kedua adalah dosa besar atas pengakuan  keIslaman mereka serta pengakuan mereka sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw,  karena pengakuan orang  munafik ini sebagai sosok yang beragama Islam dan pengikut Nabi Muhammad Saw  justru telah merusak kebenaran dan keindahan Islam dalam pandangan agama–agama lain, serta memporak porandakan persatuan Islam itu sendiri disamping mencemarkan citra Nabi Muhammad Saw sebagai seorang Nabi yang dikenal jujur dan dapat dipercaya, padahal  seharusnya kehadiran agama Islam dan penganutnya dimuka bumi ini adalah sebagai rahmatan lil alamiin, bukan menimbulkan ketakutan (terror) kepada orang lainnya atau mungkinkah seorang Nabi yang benar, jujur dan pengasih lagi penyayang memiliki pengikut orang  pembohong dan penghianat lagi serakah dan pendengki  yang tidak mau bertaubat ?.   
         Sesungguhnya penyakit kebodohan, kebohongan, keserakahan dan kendengkian yang akut telah menggrogoti hati dan pikiran orang–orang munafik  hingga terkikis inti ajaran Islam dihati dan pikiran mereka yaitu kecerdasan spiritual, kejujuran serta kasih dan sayang, sehingga tanpa ada sedikitpun rasa malu atau bersalah orang-orang munafik ini menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan  duniawi mereka dengan label dan   jargon Islam sebagai topeng.
           QS; At Taubah 67 ( Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya ( kikir ) Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah  melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.)
QS; An-Nisaa 145 (Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.)
QS; Al baqarah 208 (Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah ( keseluruhannya ), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.)
        QS; An Nisaa  (Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.)
 Semoga  Allah SWT melimpahkan rahmat dan karuniaNya pada kita semua sehingga amal ibadah kita dapat memperbaiki ahklak kita menjadi ahklak yang terpuji yang akan membawa kita menuju  ketaqwaan kepada Allah SWT sehingga kita dianugerahi kebahagiaan didunia maupun diakhirat serta diselamatkan dari segala siksaan Allah SWT .          A m i i n

0 komentar:

Poskan Komentar