Meniti kejujuran Menuju Kepastian
Islam adalah sebuah agama yang ajarannya
sangat rasional yang diturunkan oleh
Pencipta alam semesta ini yang didasari dengan
kasih sayang dan kejujuran dari Pemilik alam semesta ini kepada manusia
ciptaanNya, semua ritual, aturan-aturan serta
ajaran dalam agama Islam bertujuan multi dimensi diantaranya : sebagai wujud
kepatuhan dan kesetiaan kepada Pencipta Alam semesta ini, menciptakan
keharmonisan dan ketenangan dalam tatanan kehidupan juga membina dan membentuk manusia-manusia
yang memiliki sifat kasih sayang dan
berkarakter jujur yaitu: berkata benar, menepati janji serta bisa
dipercaya inilah yang menjadi ciri-ciri
mutlak sebagai indentitas seorang Islam , jika kebalikan dari ciri-ciri
tersebut diatas dapat dipastikan itu bukan seorang yang beragama Islam tetapi
kafir ,musyrik atau munafik.
Bentuk dari
kepatuhan kepada Pemilik alam semesta
ini ialah mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang
dilarang-Nya, ini semua dapat dipastikan bertujuan demi kepentingan bagi
manusia itu sendiri , karena Pemilik (Rabb) alam semesta ini telah menetapkan
aturan-aturan baku “fitrah” terhadap seluruh isi alam semesta ini dan
konsekwensinya jika melanggar aturan-aturan tersebut, yang pasti akan berdampak
langsung terhadap manusia itu sendiri atau tatanan kehidupan manusia secara
langsung maupun tidak langsung atau
secara cepat ataupun lambat tetapi pasti, jika ada seseorang yang mengaku Islam
namun melanggar perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya pasti dia kafir
(ingkar).
Sedangkan
kesetiaan kepada Pemilik alam semesta ini adalah dengan tidak menduakan-Nya
atau mensejajarkan-Nya dengan satu apapun juga atau siapapun juga , dengan
maksud selain dari pada-Nya semua boleh disekutukan atau diduakan, karena
selain dari Pemilik alam semesta dan segala isinya ini tidak memiliki kekuasaan
individual dan mutlak tetapi hanya bersifat pinjaman dan sementara sehingga
dengan menduakan-Nya berarti menganggap bahwa ada kepemilikan dan kekuasaan
lain diluar Kepemilikan dan Kekuasaan-Nya, prasangka yang demikian ini akan menyulitkan
dan memojokkan manusia tersebut ketika menempuh perjalanan selanjutnya yaitu
perjalanan setelah kematian karena apa atau siapa yang mereka anggap memiliki
kuasa selain Pemilik alam semesta ini ternyata
tidak kuasa menolong mereka barulah manusia itu menyadari bahwa apa yang mereka
prasangkakan selama ini ternyata telah menipu diri mereka sendiri, padahal jika
setiap manusia itu mau berpikir secara jernih dan rasional bahwa apa yang
mereka anggap selama ini memiliki kekuasaan selain dari Pemilik alam semesta
ini pada dasarnya hanyalah mitos, pengkultusan atau rekayasa dan tidak bisa dibuktikan
secara fakta dan nyata dan jika seseorang yang mengaku Islam namun mensekutukan
atau menduakan Pemilik Alam semesta ini dan tidak setia sampai mati pasti dia
musyrik.
Sifat kasih dan
sayang serta kejujuran adalah sebagai barometer yang
mengindentifikasikan keIslaman seseorang
yang dapat dibuktikan secara nyata dan juga dapat dikenal seberapa dekat hubungan
seseorang itu dengan Pemilik alam semesta ini.
bukan dari jargon, symbol, suara-suara indah maupun kedudukan yang
mereka miliki sebagai barometer keIslaman seseorang. karena seseorang yang memiliki sifat kebalikan
dari sifat kasih dan sayang yaitu serakah (ingin menguasai hak orang lain) dan
pendengki (ingin menjatuhkan orang lain) pasti dia tidak akan bisa bersifat jujur “
berkata benar, menepati janji dan bisa dipercaya ” dan seseorang yang mengaku Islam tetapi tidak
jujur pasti munafik, meskipun mereka berbusana dan beribadah sebagaimana layaknya seorang Islam.
Jika kita
kembali kepada kemurnian dan tujuan dari ajaran Islam maka dapat dipastikan
bahwa Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya hingga akhir jaman adalah orang-orang
yang menjadi rahmat bagi alam semesta tidak ada yang membenci atau memusuhi
mereka kecuali orang-orang yang ingkar kepada Pencipta-Nya dan orang-orang yang
serakah dan pendengki,
Karena
kehadiran Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya dari dahulu hingga akhir jaman akan mengusik orang-orang yang memiliki sifat
serakah dan pendengki ini, mereka inilah orang-orang yang lalai dan sangat mencintai
dunia, sehingga mereka terseret arus pusaran kemegahan dan kemewahan bumi
hingga ketika ajal menjemput barulah mereka menyadari ternyata mereka tidak
benar-benar memiliki atau menguasai apa yang selama ini mereka usahakan atau yang
mereka anggap sebagai milik mereka, bahkan terhadap jasad mereka sendiripun
ternyata mereka tidak memiliki kekuasaan
apapun dan mereka akan meninggalkan semuanya dengan beban perasaan yang
berkecamuk, kekecewaan yang bergejolak dahsyat akibat kecintaan dan kesetiaan mereka
kepada selain Pemilik alam semesta ini dan ini adalah suatu kepastian yang
nyata yang bisa kita baca dari fakta yang ada dan setiap orang hanya tinggal
tunggu waktunya sesuai dengan timer yang telah ditetapkan atas diri setiap
orang
Yang pasti
orang-orang yang demikian ini pada dasarnya tidak mengenal benar Pemiliknya dan
kekuasaan Allah Swt serta kenyataan yang akan mereka hadapi kedepan.
Jadi
jelas dalam ajaran Islam juga ritual-ritual yang diperintahkan sesungguhnya
adalah sebagai sarana yang sarat dengan petunjuk serta pembinaan serta
pembentukan karakter demi kepentingan manusia itu sendiri dalam meniti perjalanan
kehidupan ini maupun perjalanan setelah kehidupan ini, karena kehidupan
tidaklah berakhir pada kematian tetapi kematian itu adalah awal dari tahapan
kehidupan yang lebih panjang dan abadi,
Karena aturan-aturan dan konsekwensi setiap
tahapan perjalanan kehidupan telah ditentukan
dan ditetapkan oleh Pemilik alam semesta ini tanpa ada perubahan , petunjuk dan
aturan perjalananpun telah diberikan beserta contohnya yaitu Al Qur’an dan Nabi
Muhammad Saw, sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan tidak mengetahuinya,
dan setiap manusia harus menempuh setiap jalan yang diambilnya dengan arah yang
jelas yaitu jalan menuju kebahagiaan yang abadi atau jalan menuju penderitaan yang
abadi.
Awal perjalanan ini dapat kita buktikan dalam
kehidupan sekarang ini yaitu seorang yang pengasih, penyayang serta jujur pasti
tenang jiwanya dan bahagia hidupnya, karena tidak ada beban yang harus
dipertanggung-jawabkannya baik didunia maupun dihari hisab kelak dan setiap orang yang dikenalnya pasti akan
menyenanginya dan siap membantunya, karena dia mengenal Pemiliknya yang
berkuasa atasnya sehingga dia bisa menerima apapun keadaannya tanpa berkeluh
kesah dia akan tetap setia kepada Pemilik (Rabb)nya yaitu Allah dan akan ikhlas
mengorbankan ilmu, harta bahkan jiwanya
demi kepentingan agamanya dijalan Allah bukan mengorbankan agama demi
kepentingan harta dan ambisinya.
Pastilah orang-orang yang demikian ini akan
berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai hasil dari pengabdiannya sebagai
pengikut Nabi Muhammad Saw
Sedangkan
seorang yang serakah dan pendengki serta pembohong pasti jiwanya tidak akan
bisa tentram dan dalam hidupnya selalu merasa kekurangan dan senantiasa dalam
kekecewaan dan ketakutan, setiap orang yang dikenalnya pasti tidak akan
menyenanginya kecuali terpaksa, dan orang-orang yang demikian ini selalu tidak
bisa menerima keadaan dan tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, mereka
cenderung membuat berbagai kerusakan termasuk kerusakan dalam ilmu agama serta permusuhan
juga pertumpahan darah dimuka bumi ini, mereka tidak ihklas dalam menyampaikan
ajaran serta menjalankan kepentingan agamanya dan selalu mengharap balas jasa “upah”
dari sesamanya bahkan sebagian mereka cenderung menjual ilmu agama yang
dimiliknya dengan membeli harta dan memenuhi berbagai ambisi duniawinya, sehingga
mengakibatkan tersendat-sendat, bertele-tele
serta tidak meratanya penyampaian ilmu agama yang benar kepada
orang-orang yang seharusnya berhak untuk mendapatkannya, orang-orang demikian
inilah yang mencerminkan sifat-sifat iblis didalam kesehariannya bagi para pengikut
iblis ini dapat dipastikan penderitaan
abadi sebagai ganjarannya, kecuali mereka bertaubat dan mengadakan perbaikan
sebelum ajal menjemputnya.
Akhirnya segala urusan kembali
kepada Allah karena hanya Dia-lah yang paling benar dan paling mengetahui awal
dan akhir dari segala sesuatunya dan sebagai manusia kita hanyalah sekedar
menyampaikan apa yang kita yakini . semoga ada manfaatnya.
0 komentar:
Poskan Komentar