♥♥♥ HIKMAH SHALAT ♥♥♥
Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan
agama ?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang
miskin.
Maka celakalah bagi orang yang shalat,
Yang dari shalatnya mereka lupa ( maksud / tujuannya )
Yang hanya ria ( pamer )
Dan enggan memberi bantuan ( kikir ).
( QS ; Al Ma’uun, Ayat 1 - 7 )
Syariat yang diajarkan Allah Swt kepada
Nabi Muhammad Saw, seperti : syahadat, shalat, zakat, puasa, haji dan
lain-lain adalah jalan atau cara yang paling benar, sempurna dan lurus serta
paling efektif dan efesian dalam usaha untuk menuju kepada Allah Swt
“ma’rifatullah”. Yaitu “ Syariat “ yang sekaligus menjadi “ Thariqat “ (
Jalan ) yang ” Hakikat “ ( Sebenarnya ) untuk menuju atau kembali kepada
Allah Swt ( Ma’rifatullah ) dan tidak ada jalan “ cara ” yang lebih lurus
dan lebih benar lagi yang dapat di ajarkan manusia lain kepada kita
kecuali jalan kebingungan dan kesesatan, hanya tinggal bagaimana kita
menggali dan memaknai serta menjiwai ajaran-ajaran yang ditinggalkannya, Nabi
Muhammad Saw adalah seorang yang dalam perjalanan kehidupannya dibimbing oleh
Pencipta dan Pemilik alam semesta ini untuk menuju kepada keselamatan serta
pengenalan yang lebih dekat kepada Allah Swt dan rekam jejak dari
perjalanannyalah yang diwariskan dan dicontohkannya kepada kita agar kita dapat
mengikuti jalannya untuk menuju kembali kepada Allah Swt, karena
kita berasal dari Allah Swt dan akan kembali kepada Allah Swt, yaitu,
berupa kitab suci Al Qur’an dan Sunnahnya. maka Pahamilah dengan benar
dan Amalkanlah !
Perlu disadari setiap kita pasti akan
mati cepat atau lambat, jika limit waktu yang diberikan pada kita sudah sampai,
maka malaikat maut akan memanggil kita untuk kembali kepada Pemilik (Rabb) kita
untuk diminta pertanggung jawaban. Tentulah pada saat-saat sakratul maut itu
bagi orang yang telah mempersiapkan diri sejak dini tentu mereka akan menyerah
dengan ikhlas menerima undangan dari Allah Swt untuk menghadap
kepada-Nya, sebagaimana orang yang dipanggil untuk menunaikan shalat untuk
menghadap Allah Swt, yang disimbolkan dengan mengangkat kedua tangan seraya
mengucapkan Allah Dia Besar sebagai ungkapan agar kita “ menyerah /
pasrah ” dengan Kebesaran-Nya, lalu meletakkan tangan diantara perut dan dada
sebagai sebagai pembatas antara nafsu dan hati agar tidak
bercampur, sebagai ungkapan agar kita sabar “ menahan diri /keinginan ”
atas Keputusan dan Kekuasaan Allah Swt. Namun bagi mereka yang
belum mempersiapkan diri atau mereka yang lalai atau mereka yang mendustakan
pertemuan dengan-Nya, pastilah mereka akan meronta-ronta dan menolak panggilan
malaikat maut tersebut sebagai usaha terakhir setiap manusia agar bisa
tetap bernafas, sebagaimana “usaha” yang kerap diandalkan kebanyakan manusia
dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya sebagai bentuk kesombongan
dan suatu pemahaman yang menghalangi mereka untuk senantiasa bersyukur kapada
Allah Swt, Namun saat-saat itu setiap kita tidak memiliki daya dan upaya
(kuasa) karena kepemilikan dan kekuasaan yang selama ini kita diandalkan
telah dicabut dari kita, bahkan kepemilikan dan kekuasaan terhadap raga kita
sendiripun akan dicabut satu persatu tanpa ada daya kita, semakin keras usaha
kita untuk bernafas demi menahan nyawa kita agar tetap hidup
maka akan semakin keras pula malaikat maut memisahkan nyawa itu dari raga
kita maka akan semakin pedih dan perih yang kita rasakan, hingga
sampailah kita pada usaha kita yang terakhir selama rentang waktu kehidupan
kita yaitu berusaha agar tetap bernafas, hingga nafas terakhir dan
berhenti, Demikianlah sekilas fenomena yang mungkin pernah kita saksikan ketika
melihat orang yang lagi sakaratul maut, yang suka ataupun tidak kita juga
pasti akan mengalaminya hanya tinggal tunggu waktunya.
Ada beberapa hal yang membuat seseorang
itu enggan atau menolak untuk memenuhi panggilan malaikat maut diantaranya
ialah
a, Kekeliruan dalam keyakinan,
pengabdian atau penyembahan yang selama ini mereka
lakukan.
b, Kecintaan yang sangat kepada
dunia ini seperti anak, istri atau suami, harta benda, jasadnya dan
lain sebagainya,
c, Kecintaan/ketagihan kepada
kenikmatan dan kesenangan yang selama ini mereka peroleh dan
nikmati dalam kehidupannya.
d, Keingkaran atau kelalaian
serta banyaknya dosa-dosa dan kesalahan
yang
mereka lakukan dalam masa hidupnya.
Namun ketika batas waktu itu tiba,
tidak ada seorangpun yang bisa mencegah atau menunda agar kita diberi
waktu sedikit lagi untuk memperbaiki kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan
selama ini, kecuali yang tinggal hanyalah penyesalan dan kekecewaan yang
berkepanjangan.
Tujuan dari setiap ulama pendiri
thariqat adalah mencari jalan pintas guna membina hubungan baik dengan Allah
Swt dengan melakukan berbagai latihan untuk mengajarkan kepada manusia
agar kepatuhan dan kesetiaan “ cinta “ kita kepada Allah Swt melebihi
dari pada kecintaan kita kepada makhluk-Nya, karena semua yang kita senangi dan
kita cintai pasti akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita, serta kecintaan
dan ketergantungan kita pada dunia ini justru akan memberatkan dan menyusahkan
kita ketika menghadapi sakaratul maut.
Namun jalan yang telah diajarkan Allah
Swt kepada Nabi Muhammad Saw yang kini diwariskan kepada kita sesungguhnya
sarat dengan persiapan dan pelajaran yang lebih baik untuk menghadapi saat-saat
sakaratul maut yaitu perpindahan kita dari satu keadaan/alam yang sudah kita
maklumi kepada suatu keadaan/alam selanjutnya yang belum kita ketahui, hanya
orang yang ketika malaikat maut datang kepadanya dengan kelembutannya seraya
mengucapkan “Salamun’ alaikum“ maka tidak ada kekhawatiran kepada mereka.
Dua kalimat Syahadat adalah salah satu
syarat mutlak atas persaksian dari keimanan “keyakinan” seseorang atas
Keberadaan, Kepemilikan dan Kekuasaan Pencipta dan Pemilik Alam semesta
ini. dengan cara diucapkan dengan mulut dipahami dengan akal dan diimani
dalam hati “ Assyahaduan
Laa Illaha IlaIlah wa Assyahaduana Muhammadurrasullullah = Aku bersaksi
tidak ada Penguasa selain Allah dan Muhammad itu Utusan Allah . yang
menyampaikan kebenaran dari Allah Swt, dengan sebuah persaksian bahwa hanya
Allah Swt saja Yang Berkuasa mutlak atas segala ciptaan-Nya yang
diciptakan-Nya dari tidak ada menjadi ada,
Jika kita percaya bahwa Allah Swt itu Pengasih lagi
Penyayang niscaya kita tidak akan berputus-asa dari rahmat-Nya dan wajiblah
kita mengadopsi sifat Kasih Sayang-Nya niscaya timbul sifat ikhlas dan
kasihsayang kita pada sesama.
Jika kita percaya bahwa Allah Swt pasti akan
membalas semua kebajikan yang kita lakukan sekecil apapun dengan yang lebih
baik dan juga akan membalas semua kejahatan yang kita kerjakan niscaya kita
pasti tidak akan kikir baik dalam ilmu agama dan harta dan kita akan
menghindar dari perbuatan keji dan mungkar.
Jka kita percaya bahwa Allah Swt senatiasa melihat,
mendengar dan memantau kita sementara malaikat mencatat segala aktifitas kita,
niscaya akan timbul sifat jujur dan rasa malu, takut untuk melakukan hal-hal
yang dilarang-Nya
Jika kita percaya bahwa Allah Swt- lah yang telah
menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada dan menyediakan / menundukkan
segala fasilitas untuk kebutuhan dan kepentingan kita serta mengatur
langkah, rejeki, pertemuan dan maut kita dengan keluasan Ilmu-Nya,
Kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya niscaya akan timbul sifat syukur dan sabar
kita atas segala pemberian dan ketetapan-Nya
Jika kita percaya bahwa Allah Swt berkuasa
mutlak atas seluruh isi alam semesta ini niscaya akan timbul sifat
tawakal “menyerah” kita kepada-Nya.
Jika kita percaya bahwa kita akan dikembalikan
kepada Allah Swt untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan kita
niscaya khusyuk shalat kita,
Serta dengan keyakinan bahwa tidak pantas
bagi kita untuk mengabdi dan meminta pertolongan atau berharap kepada selain
dari Allah Swt karena selain dari Allah Swt itu tidak ada satupun Yang Kuasa
untuk menolong atau menyelamatkan orang yang mengabdi padanya bahkan tidak
kuasa menolong dirinya sendiri. Segala sesuatu yang disembah
manusia selain dari Allah Swt hanyalah mahkluk ciptaan-Nya atau benda-benda
belaka dan segala nama-nama yang disebut serta dipuja-puji manusia selain dari
Asma-Asma Allah Swt hanyalah nama-nama yang diwariskan dari nenek-nenek moyang
mereka yang mana mereka sendiri sesungguhnya tidak mengerti asal usulnya hanya
mengikuti kebiasaan orang sebelum mereka saja.
Namun jika kita kurang percaya atau masih
ragu semua keyakinan ini, maka mari kita pertanyakan kembali
keimanan dan keislaman kita selama ini .
Shalat adalah salah satu kewajiban yang
harus dikerjakan oleh orang yang mengaku beragama Islam, shalat itu sendiri
memiliki banyak tujuan diantaranya :
A. Sebagai peringatan dan
pelajaran serta pelatihan guna persiapan untuk menghadap Allah Swt
ketika sakaratul maut dan bertemu disurga kelak dan dapat mencegah pelaku
shalat tersebut dari perbuatan keji dan mungkar yaitu
menganiaya diri sendiri maupun orang lain, jika ternyata shalatnya
tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya
justru mendapat kemurkaan dari Allah Swt, karena shalat itu
bukan ritual untuk penebus dosa lalu melakukan dosa-dosa lagi kemudian
shalat lagi, tetapi shalat itu bertujuan
untuk mencegah agar orang yang shalat tidak berbuat dosa
lagi selepas shalat.
B. Jika ternyata shalatnya
dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar maka itupun belum cukup,
karena tujuan yang hakiki dari shalat adalah membina hubungan baik dengan Allah
Swt dan kasih sayang pada sesama, perlu dipahami dan diingat baik-baik
bahwa dampak dari shalat yang kita kerjakan selama ini adalah untuk kebutuhan
dan kepentingan kita sendiri bukan untuk kebutuhan dan kepentingan Allah Swt.
Jika ternyata shalat yang kita kerjakan tidak merobah sifat buruk kita
diantaranya kikir dan enggan memberi bantuan kepada sesama, baik berupa ilmu
agama maupun harta maka kita masih dalam posisi orang yang celaka dan
masih berada di jalan yang sesat, karena tidak ikhlas dan
mementingkan diri sendiri serta tidak percaya kepada Allah swt dan
janji-Nya.
Shalat adalah salah satu tharikat ( Jalan ) yang Hakikat (
Sebenarnya ) untuk menuju “ Ma’rifat “, yang didalam setiap gerak dan ucapan
terkandung pengajaran yang paling sempurna, efektif, efesien dan dapat
dilakukan oleh setiap manusia yang berakal tanpa meninggalkan fungsi serta
kewajiban kita sebagai manusia seperti mencari nafkah dan beramal shaleh
dan lain-lain, suatu tariqat yang diajarkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad
Saw untuk mendekat -kan diri dan menuju kepada Allah Swt “
Ma’rifatullah ” untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat serta
terselamatkan dari segala siksa dan penderitaan, yang Thariqatnya dapat
diikuti oleh setiap pengikutnya tanpa ada alasan untuk meninggalkannya,
meski orang miskin atau sibuk sekalipun, tanpa perlu belajar khusus
bertahun-tahun dan tidak perlu “ biaya mahal ” yang penting istiqomah
dalam menjalankannya hingga ajal tiba !
Shalat adalah kombinasi dari gerakan
yang beradab, puji-pujian dan permohonan, yang mana ucapan puji-pujian dan
permohonan yang mengiringi gerakan seperti ruku’, sujud dll, ini harus
lebih diutamakan dalam hal: waktu, kesopanan/adab serta pemahaman makna apa
yang diucapkan agar dapat konsentrasi dan sungguh-sungguh (khusyuk) ini
wajib dilakukan oleh setiap orang/imam yang ingin mengerjakan shalat yang benar
dan bermanfaat, sedang kan gerakan seperti iktidal, rukuk, sujud dan lain-lain
tentu tidak semua orang dapat melakukannya sehingga tidak menjadi wajib,
terutama bagi orang yang sakit atau cacat. Jika kita hanya focus pada gerakan
dan mengabaikan makna dari yang kita ucapkan, maka itu namanya senam jasmani,
Ini semua sangat penting dalam pembentukan jiwa dan karakter seseorang guna
meraih tujuan dari shalat yang didirikan sebagai bekal kebahagiaan didunia dan
akhirat juga bekal untuk menghadap Allah Swt selepas sakaratul maut dan
bertemu dengan Allah Swt disurga kelak bagi orang yang khusyuk dan sempurna
shalatnya.
Tujuan atau motifasi untuk
mengerjakan setiap shalat yang akan kita dirikan sebaiknya adalah
bertujuan untuk bertemu dengan Allah Swt, guna menyampaikan rasa syukur atas
semua nikmat dan pemberian-Nya kepada kita, meski kita tidak harus melihat-Nya
dan memohon ampun atas dosa-dosa kita, Ini sebagai suatu pelatihan dan
pembinaan jiwa kita agar muncul rasa rindu kita kepada Allah Swt untuk bertemu
langsung suatu saat, hingga ketika malaikat maut menjemput kita
untuk menghadapkan kita kepada Allah Swt tentu kita akan memenuhi
undangan tersebut dengan senang hati bukan menolak atau meronta2.
0 komentar:
Poskan Komentar