Kamis, Agustus 18, 2011

♥♥♥  HIKMAH  SHALAT  ♥♥♥
     
      
Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan agama ?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka celakalah bagi orang yang shalat,
Yang dari shalatnya mereka lupa (  maksud / tujuannya )
Yang hanya ria ( pamer )
Dan enggan memberi bantuan ( kikir ).  
                                                                                                 ( QS ; Al Ma’uun, Ayat 1 - 7 )                                                           
         Syariat yang diajarkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, seperti : syahadat, shalat, zakat, puasa, haji  dan lain-lain adalah jalan atau cara yang paling benar, sempurna dan lurus serta paling efektif dan efesian dalam usaha untuk menuju kepada Allah Swt  “ma’rifatullah”. Yaitu “ Syariat “ yang sekaligus menjadi  “ Thariqat “ ( Jalan )  yang ” Hakikat “ ( Sebenarnya ) untuk menuju atau kembali kepada Allah Swt ( Ma’rifatullah ) dan tidak ada jalan “ cara ”  yang lebih lurus dan lebih benar lagi yang dapat di ajarkan manusia lain kepada kita  kecuali jalan kebingungan dan kesesatan,  hanya tinggal bagaimana kita menggali dan memaknai serta menjiwai ajaran-ajaran yang ditinggalkannya, Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang dalam perjalanan kehidupannya dibimbing oleh Pencipta dan Pemilik alam semesta ini untuk menuju kepada keselamatan serta pengenalan yang lebih dekat kepada Allah Swt dan rekam jejak dari perjalanannyalah yang diwariskan dan dicontohkannya kepada kita agar kita dapat mengikuti jalannya  untuk menuju kembali kepada Allah Swt,  karena kita berasal dari Allah Swt dan akan kembali kepada Allah Swt,  yaitu, berupa kitab suci  Al Qur’an dan Sunnahnya. maka Pahamilah dengan benar dan Amalkanlah !
       Perlu disadari setiap kita pasti akan mati cepat atau lambat, jika limit waktu yang diberikan pada kita sudah sampai, maka malaikat maut akan memanggil kita untuk kembali kepada Pemilik (Rabb) kita untuk diminta pertanggung jawaban. Tentulah pada saat-saat sakratul maut itu bagi orang yang telah mempersiapkan diri sejak dini tentu mereka akan menyerah dengan ikhlas menerima undangan dari Allah Swt  untuk menghadap kepada-Nya, sebagaimana orang yang dipanggil untuk menunaikan shalat untuk menghadap Allah Swt, yang disimbolkan dengan mengangkat kedua tangan seraya mengucapkan Allah  Dia Besar sebagai ungkapan agar kita “ menyerah / pasrah ” dengan Kebesaran-Nya, lalu meletakkan tangan diantara perut dan dada sebagai sebagai pembatas antara nafsu dan hati agar  tidak bercampur,  sebagai ungkapan agar kita sabar “ menahan diri /keinginan ” atas Keputusan dan Kekuasaan Allah Swt.   Namun bagi mereka yang belum mempersiapkan diri atau mereka yang lalai atau mereka yang mendustakan pertemuan dengan-Nya, pastilah mereka akan meronta-ronta dan menolak panggilan malaikat maut tersebut sebagai usaha  terakhir setiap manusia agar bisa tetap bernafas, sebagaimana “usaha” yang kerap diandalkan kebanyakan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya sebagai bentuk kesombongan dan suatu pemahaman yang menghalangi mereka untuk senantiasa bersyukur kapada Allah Swt, Namun saat-saat  itu setiap kita tidak memiliki daya dan upaya (kuasa) karena kepemilikan dan kekuasaan  yang selama ini kita diandalkan telah dicabut dari kita, bahkan kepemilikan dan kekuasaan terhadap raga kita sendiripun akan dicabut satu persatu tanpa ada daya kita, semakin keras usaha kita  untuk bernafas demi menahan nyawa kita  agar  tetap hidup maka akan semakin keras pula malaikat maut memisahkan nyawa itu dari raga kita  maka akan semakin pedih dan perih yang kita rasakan, hingga sampailah kita pada usaha kita yang terakhir selama rentang waktu kehidupan kita yaitu  berusaha agar tetap bernafas, hingga nafas terakhir dan berhenti, Demikianlah sekilas fenomena yang mungkin pernah kita saksikan ketika melihat orang yang lagi sakaratul maut, yang suka ataupun tidak  kita juga pasti akan mengalaminya hanya tinggal tunggu waktunya.
    Ada beberapa hal yang membuat seseorang itu enggan atau menolak untuk memenuhi panggilan malaikat maut diantaranya ialah
     a, Kekeliruan dalam keyakinan, pengabdian atau penyembahan   yang selama   ini mereka lakukan.
    b,  Kecintaan yang sangat kepada dunia ini seperti anak, istri atau  suami, harta benda, jasadnya  dan lain sebagainya,
   c,  Kecintaan/ketagihan kepada kenikmatan dan kesenangan yang selama ini   mereka peroleh dan nikmati dalam kehidupannya.
   d,  Keingkaran atau kelalaian serta banyaknya dosa-dosa dan kesalahan 
     yang mereka   lakukan   dalam masa hidupnya.
        Namun ketika batas waktu itu tiba, tidak ada seorangpun yang bisa  mencegah atau menunda agar kita diberi waktu sedikit lagi untuk memperbaiki kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan selama ini, kecuali yang tinggal hanyalah penyesalan dan kekecewaan yang berkepanjangan.
      Tujuan dari setiap ulama pendiri thariqat adalah mencari jalan pintas guna membina hubungan baik dengan Allah Swt dengan melakukan berbagai latihan untuk mengajarkan kepada manusia  agar kepatuhan dan kesetiaan “ cinta “ kita kepada Allah Swt melebihi  dari pada kecintaan kita kepada makhluk-Nya, karena semua yang kita senangi dan kita cintai pasti akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita, serta kecintaan dan ketergantungan kita pada dunia ini justru akan memberatkan dan menyusahkan kita ketika menghadapi sakaratul maut.
         Namun jalan yang telah diajarkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw yang kini diwariskan kepada kita sesungguhnya sarat dengan persiapan dan pelajaran yang lebih baik untuk menghadapi saat-saat sakaratul maut yaitu perpindahan kita dari satu keadaan/alam yang sudah kita maklumi kepada suatu keadaan/alam selanjutnya yang belum kita ketahui, hanya orang yang ketika malaikat maut datang kepadanya dengan kelembutannya seraya mengucapkan “Salamun’ alaikum“ maka tidak ada kekhawatiran kepada mereka.
       Dua kalimat Syahadat adalah salah satu syarat mutlak atas persaksian dari keimanan “keyakinan”  seseorang atas Keberadaan, Kepemilikan dan Kekuasaan Pencipta dan Pemilik Alam semesta ini.  dengan cara diucapkan dengan mulut dipahami dengan akal dan diimani dalam hati “   Assyahaduan Laa Illaha IlaIlah  wa Assyahaduana Muhammadurrasullullah = Aku bersaksi tidak ada Penguasa selain Allah  dan Muhammad itu Utusan Allah . yang menyampaikan kebenaran dari Allah Swt, dengan sebuah persaksian bahwa hanya Allah Swt saja Yang Berkuasa  mutlak atas segala ciptaan-Nya yang diciptakan-Nya dari tidak ada menjadi ada, 
        Jika kita percaya bahwa Allah Swt itu Pengasih lagi Penyayang niscaya kita tidak akan berputus-asa dari rahmat-Nya dan wajiblah kita mengadopsi sifat Kasih Sayang-Nya niscaya timbul sifat  ikhlas dan kasihsayang  kita pada sesama.
        Jika kita percaya bahwa Allah Swt pasti akan membalas semua kebajikan yang kita lakukan sekecil apapun dengan yang lebih baik dan juga akan membalas semua kejahatan yang kita kerjakan niscaya kita pasti tidak akan kikir baik dalam ilmu agama dan harta  dan kita akan menghindar dari perbuatan keji dan mungkar.
        Jka kita percaya bahwa Allah Swt senatiasa melihat, mendengar dan memantau kita sementara malaikat mencatat segala aktifitas kita, niscaya akan timbul sifat jujur dan rasa malu, takut untuk melakukan hal-hal yang dilarang-Nya
      Jika kita percaya bahwa Allah Swt- lah yang telah menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada dan menyediakan / menundukkan segala fasilitas untuk kebutuhan dan kepentingan kita serta  mengatur langkah, rejeki, pertemuan dan maut kita dengan keluasan Ilmu-Nya, Kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya niscaya akan timbul sifat syukur dan sabar kita atas segala pemberian dan ketetapan-Nya
       Jika kita percaya bahwa Allah Swt  berkuasa mutlak atas seluruh isi alam semesta ini  niscaya  akan timbul sifat tawakal “menyerah” kita kepada-Nya.
    Jika kita percaya bahwa kita akan dikembalikan kepada Allah Swt untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan kita niscaya  khusyuk shalat kita,
Serta dengan keyakinan bahwa tidak  pantas bagi kita untuk mengabdi dan meminta pertolongan atau berharap kepada selain dari Allah Swt karena selain dari Allah Swt itu tidak ada satupun Yang Kuasa untuk menolong atau menyelamatkan orang yang mengabdi padanya bahkan tidak kuasa menolong dirinya sendiri.  Segala sesuatu yang disembah  manusia selain dari Allah Swt hanyalah mahkluk ciptaan-Nya atau benda-benda belaka dan segala nama-nama yang disebut serta dipuja-puji manusia selain dari Asma-Asma Allah Swt hanyalah nama-nama yang diwariskan dari nenek-nenek moyang mereka yang mana mereka sendiri sesungguhnya tidak mengerti asal usulnya hanya mengikuti kebiasaan orang sebelum mereka saja.   
         Namun jika kita kurang percaya atau masih ragu   semua keyakinan ini, maka mari kita pertanyakan kembali keimanan  dan keislaman kita selama ini .
         Shalat adalah salah satu kewajiban yang harus dikerjakan oleh orang yang mengaku beragama Islam, shalat itu sendiri memiliki banyak tujuan diantaranya :
A.       Sebagai peringatan dan pelajaran serta pelatihan  guna  persiapan untuk menghadap Allah Swt ketika sakaratul maut dan bertemu disurga kelak dan dapat mencegah pelaku shalat tersebut dari perbuatan keji dan mungkar    yaitu menganiaya diri sendiri maupun orang lain,  jika ternyata shalatnya tidak  mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya justru   mendapat kemurkaan dari Allah Swt, karena  shalat itu bukan  ritual untuk penebus dosa lalu melakukan dosa-dosa lagi kemudian shalat lagi,  tetapi shalat itu bertujuan 
untuk mencegah  agar orang yang shalat tidak berbuat dosa lagi selepas shalat.
B.   Jika ternyata shalatnya dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar maka itupun belum cukup, karena tujuan yang hakiki dari shalat adalah membina hubungan baik dengan Allah Swt dan  kasih sayang pada sesama, perlu dipahami dan diingat baik-baik bahwa dampak dari shalat yang kita kerjakan selama ini adalah untuk kebutuhan dan kepentingan kita sendiri bukan untuk kebutuhan dan kepentingan Allah Swt. Jika ternyata shalat yang kita kerjakan tidak merobah sifat buruk kita diantaranya kikir dan enggan memberi bantuan kepada sesama, baik berupa ilmu agama maupun harta maka kita masih dalam posisi orang yang celaka dan masih  berada di jalan yang sesat, karena tidak ikhlas dan  mementingkan diri sendiri serta tidak percaya kepada Allah swt dan  janji-Nya. 
                Shalat adalah salah satu tharikat ( Jalan )   yang Hakikat  ( Sebenarnya ) untuk menuju “ Ma’rifat “, yang didalam setiap gerak dan ucapan terkandung pengajaran yang paling sempurna, efektif, efesien dan dapat dilakukan oleh setiap manusia yang berakal tanpa meninggalkan fungsi serta kewajiban kita  sebagai manusia seperti mencari nafkah dan beramal shaleh dan lain-lain, suatu tariqat yang diajarkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw   untuk mendekat -kan diri dan menuju kepada Allah Swt  “ Ma’rifatullah ” untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat serta terselamatkan dari segala siksa dan penderitaan,  yang Thariqatnya dapat diikuti oleh setiap pengikutnya tanpa ada alasan untuk  meninggalkannya, meski orang miskin atau sibuk sekalipun, tanpa perlu belajar khusus bertahun-tahun  dan tidak perlu “ biaya mahal ” yang penting istiqomah dalam menjalankannya hingga ajal tiba !
        Shalat adalah kombinasi dari gerakan yang beradab, puji-pujian dan permohonan, yang mana ucapan puji-pujian dan permohonan yang mengiringi gerakan seperti ruku’, sujud dll,  ini harus lebih diutamakan dalam hal: waktu, kesopanan/adab serta pemahaman makna apa yang diucapkan agar dapat konsentrasi dan sungguh-sungguh (khusyuk)  ini wajib dilakukan oleh setiap orang/imam yang ingin mengerjakan shalat yang benar dan bermanfaat, sedang kan gerakan seperti iktidal, rukuk, sujud dan lain-lain tentu tidak semua orang dapat melakukannya sehingga tidak menjadi wajib, terutama bagi orang yang sakit atau cacat. Jika kita hanya focus pada gerakan dan mengabaikan makna dari yang kita ucapkan, maka itu namanya senam jasmani, Ini semua sangat penting dalam pembentukan jiwa dan karakter seseorang guna meraih tujuan dari shalat yang didirikan sebagai bekal kebahagiaan didunia dan akhirat  juga bekal untuk menghadap Allah Swt selepas sakaratul maut dan bertemu dengan Allah Swt disurga kelak bagi orang yang khusyuk dan sempurna shalatnya.
        Tujuan atau motifasi untuk mengerjakan setiap shalat yang akan kita dirikan  sebaiknya adalah bertujuan untuk bertemu dengan Allah Swt, guna menyampaikan rasa syukur atas semua nikmat dan pemberian-Nya kepada kita, meski kita tidak harus melihat-Nya dan memohon ampun atas dosa-dosa kita, Ini sebagai suatu pelatihan dan pembinaan jiwa kita agar muncul rasa rindu kita kepada Allah Swt untuk bertemu langsung suatu saat, hingga  ketika malaikat maut menjemput  kita untuk menghadapkan kita kepada  Allah Swt tentu kita akan memenuhi undangan tersebut dengan senang hati bukan menolak atau meronta2.  

0 komentar:

Poskan Komentar