Jumat, September 04, 2009

Shalat Jamaah dan persatuan Islam

Tujuan yang paling utama dari perintah shalat berjamaah adalah menciptakan dan membina hubungan persaudaraan  antara sesama jamaah, dalam rangka saling tolong menolong dalam menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan didunia maupun akhirat untuk menuju suatu cita-cita persatuan dan kesatuan umat Islam  untuk mencapai suatu kemenangan didunia dan akhirat, yang mana pesan-pesan ini dapat kita simak dari uraian seruan azan dan iqamat yang dikumandangkan untuk mengajak umat islam untuk menunaikan shalat berjamaah, seperti : Allahu Akbar =Allah Dia Besar, ini mengisyaratkan bahwa selain dari Allah itu kecil dan diharapkan orang yang mengabdi padaNya haruslah berjiwa besar dan tidak kerdil apalagi berputus asa.   Asyhadu an Laa Ilaha Illallah  yang bermakna “ Aku bersaksi  Tidak ada Penguasa (yang Kuasa)  selain Allah. ini mengisyaratkan bahwa selain dari Allah tidak ada yang memiliki kekuasaan mutlak dan abadi dialam semesta ini, dan semuanya tunduk pada kehendakNya.
  Wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah. Maknanya Aku bersaksi Muhammad itu adalah utusan Allah , yang menyampaikan kebenaran dari Allah Pencipta dan pemilik (Rabb) Alam semesta dan segala isinya ini. bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah  sesuatu yang sepele dan tidak memiliki tujuan guna kepentingan manusia. “ Mari menunaikan shalat ini ” mengisyaratkan bahwa didalam shalat itu terkandung berbagai kebutuhan dalam rangka pembinaan jiwa dan raga manusia yang memiliki tujuan utama agar setiap pelaku shalat dapat tercegah dari perbuatan keji dan mungkar yaitu perbuatan menganiaya diri sendiri maupun orang lain, Sabda Rasulullah saw yang bermaksud:" Barang siapa yang shalatnya tidak dapat menahan daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya shalatnya itu hanyalah menambah kemurkaan Allah SWT dan jauh dari Allah SWT."   inilah yang menjadi titik awal dalam melangkah untuk menuju tujuan yang selanjutnya yaitu “ Mari mencapai kemenangan/kebahagiaan ”.
Karena kemenangan itu mustahil dicapai jika umat Islam itu sendiri masih dalam keadaan menganiaya dirinya maupun orang lain, dan sekali lagi, “ Allah Dia Besar ” jadi umat Islam itu haruslah mempunyai cita-cita yang besar pula sesuai dengan kepada siapa mereka mengabdi dan tidak terjebak pada sesuatu hal yang kecil-kecil sehingga mereka saling bermusuhan dan tergelincir dari tujuan.
 Dalam pelaksanaan shalat berjamaah ini juga memiliki beberapa tingkatan dimulai dari shalat berjamaah berskala kecil  (keluarga, kantor), shalat berjamaah di surau,mushalla dan sejenisnya lalu shalat berjamaah di masjid juga diwajibkan shalat berjamaah pada hari jumat  dan selanjutnya shalat berjamaah di mesjidil haraam sebagai jamaah terbesar yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan negara yang berbeda, 
Jika perintah shalat berjamaah ini tidak dimaknai secara bijak sesuai dengan tujuan maka yang terjadi hanyalah kumpul-kumpul saja namun tidak membawa berkah atau manfaat bagi para jamaah itu sendiri. Dan jika suatu amalan sudah tergelincir dari tujuan maka yang terjadi pastilah kesesatan demi kesesatan yang justru akan menghasilkan kemurkaan demi kemurkaan pula.
Jika kita berbicara masalah shalat berjamaah maka indentik dengan berjamaah, maka para imam shalatlah yang dituntut sebagai orang yang pertama yang seharusnya tercegah dari perbuatan keji (menganiaya diri) dan mungkar (menganiaya orang lain) sebagai konsekwensi dari ke-Imam-annya, untuk menjadi orang yang dapat dipercaya 100%. Jadi bukan hanya sekedar mengimami shalat jamaah berulang² untuk mencari kehormatan, uang atau mencari popularitas saja, tapi tidak tau, tidak mau tau, atau pura² tidak tau tujuan shalat yang dipimpinnya dan mengabaikan makmumnya, tetapi para imamlah yang pertama sebagai pelopor  tercegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. para imamlah yang seharusnya mencari solusi dan menolong jamaahnya,  bukan memanfaatkan jamaah untuk solusi kehidupannya, jadi pencerahan dan pengkaderisasian imam – imam yang jujur, amanah dan bisa dipercaya adalah fase-fase dalam mewujudkan kemenangan Islam atau Islam yang rahmatan lil alamiin, sebab jika seorang imam shalat itu tidak jujur, amanah dan bisa dipercaya sudah pastilah imam tersebut munafik dan apa yang bisa diharap dari orang munafik ? bukan jalan yang lurus yang ditunjukkan Allah tetapi justru kemurkaanNya.,sebagaimana yang terjadi selama ini.
Sesungguhnya jalan atau berbagai fasilitas untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam itu sudah dipersiapkan Allah dan Nabi Muhammad SAW sejak dahulu kala hanya mungkin kita tidak memperhatikan serta memaknai dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut untuk suatu tujuan yang besar dan mulia. Justru sebagian kita memperdebatkannya untuk mencari pamor dan pertikaian.  Misalnya :  bacaan shalat harus dengan bahasa arab sesuai dengan sunnah Nabi dan shalat harus mengerti yang diucapkannya sesuai dengan firman Allah dalam QS ; An Nisaa 43 “(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,…) perintah-perintah ini bertujuan agar minimal para imam wajib mengerti bahasa arab secara dialog bukan hanya sekedar bisa membaca.sehingga setiap imam yang ada di permukaan bumi ini dapat berdialog langsung untuk bertukar pikiran dan saling membantu dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan jamaahnya tanpa harus terkendala masalah bahasa. dan mengingat sarana komunikasi yang ada saat ini seperti hp, internet dll, membuktikan bahwa persatuan umat Islam sedunia itu bukan suatu yang mustahil.
 Tentulah setiap jamaah dalam satu mesjid, mushallah dan lain-lain yang ada dimuka bumi ini ada yang berkelebihan dan ada yang kekurangan dalam hal rejeki yang diberikan Allah bukankan mereka bisa berbagi meskipun berlainan daerah atau negara. bukankah sesama umat Islam itu bersaudara ? jikalau para imam itu jujur, bisa dipercaya dan tidak mengingkari janji bukankah bantuan-bantuan seperti hibah, zakat dll buat kemaslahatan umat Islam bisa disalurkan melalui para imam-imam ini dan pasti sampai dan tepat sasaran, juga bantuan-bantuan dari negara-negara yang peduli dengan pemberantasan kebodohan dan kemiskinan, lagipula  setiap imam shalat itu wajib mengetahui dan peduli keadaan para jamaahnya juga umat Islam diwilayahnya yaitu tentang kehidupannya, akidahnya  dan menjadi solusi bagi jamaahnya sehingga imam itu bukan hanya sekedar memimpin shalat tetapi juga memimpin dan menjadi contoh dalam berakhlak sehari-hari, jika ini tidak diterapkan yang terjadi adalah kesia-siaan .
Dan fasilitas lain yang sudah dipersiapkan Allah adalah tempat-tempat ibadah yang ada dimuka bumi ini sebagai tempat para imam –imam ini melakukan aktifitasnya. Seperti masjid, mushalla, surau, tanpa perlu pembiayaan lagi, juga jabatan imam adalah sakral dan dihormati oleh warga disekitarnya.
Kalau kita mau meneliti lebih mendetail lagi masih banyak kemudahan-kemudahan yang sudah dipersiapkan Allah untuk mempersatukan umat Islam sedunia. Juga bisa diorganisir mulai dari imam besar mesjidil haram, imam besar yang ada diIbukota Negara, Propinsi/Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan bahkan imam mushallah yang ada  Rw-Rw.dengan satu link atau jaringan.    
Namun para imam ini haruslah dididik untuk berjiwa besar dan menghargai perbedaan dan tidak berkutet dengan hal-hal yang kecil atau khilafiah yang justru hanya menimbulkan pertikaian dan permusuhan tetapi mereka harus berfikir untuk tujuan dari shalat yang dipimpinnya dan kemaslahatan jamaahnya.
Dengan cara ini juga kita bisa mengetahui dan mengenal para imam atau jamaah yang tidak mau bergabung atau mengadakan persatuan demi kemaslahatan umat. Bahwa merekalah yang selama ini justru menginginkan atau dipersiapkan unutk menimbulkan perpecahan diantara umat Islam itu sendiri.
Demikianlah sekilas ulasan dari saya yang tentu masih banyak kekurangan dan kekeliruan namun ambillah sisi positifnya saja dan disempurnakan untuk tujuan agar terselamatkannya sebagian dari umat Islam didunia ini dari  kebodohan , kemiskinan dan kemurtadan , yah mudah-mudah dapt tercegah dari perbuatan keji dan mugkar. Sehingga kita bisa hidup nyaman dimuka bumi ini bersama saudara-saudara Islam kita, jika kita tidak memulai sekarang, kapan lagi ? dan jika tidak kita yang memulai, siapa lagi ? 
Dan akhirnya segala urusan kembali kepada Allah, jika Dia berkehendak tentu tidak ada yang mustahil. amiin .

0 komentar:

Poskan Komentar