Hadjar ashwad, adalah sebuah batu yang konon berasal dari surga yang ditempatkan kebumi, ini adalah sebuah perumpamaan dari Allah sebagai pelajaran buat kita bahwa demikianlah kerasnya hati manusia untuk mempertahankan keingkaran²nya serta mempertahankan keinginan²nya tanpa mau merobahnya meski sudah diperingatkan oleh Allah, hati manusia itu sudah menjadi batu bahkan lebih keras lagi dari batu., hingga harus dicampakkan dari surga dan ditempatkan dibumi ini, sebagaimana keadaan Adam dan Hawa yang bersikeras untuk melanggar larangan Allah dengan menuruti hasutan iblis, sehingga mereka harus diusir dari surga tempat dimana seharusnya mereka tidak perlu bekerja keras dan bersusah payah untuk memenuhi keinginan mereka seperti mencari nafkah dan lain-lain lalu dipaksa untuk tinggal dibumi ini yang mana mereka harus berjuang untuk bertahan hidup dan mengalami berbagai penderitaan dan duka cita dan dan jadikan juga dibumi ini sebagai tempat memohon ampun dan membina kembali hubungan baik dengan Pencipta alam semesta ini dengan belajar untuk mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya dan melembutkan hati mereka agar tidak sekeras batu agar bisa kembali dan menetap di syurga.
Jika Nabi Muhammad SAW pernah mencium dan menyentuhnya, itu hanyalah sekedar ucapan ” selamat tinggal, wahai hati yang sekeras batu ini, kemudian dia merobah hatinya menjadi perumpamaan tanah yang subur, sehingga benih² kebenaran dan kebaikan yang disemai dihatinya tumbuh dan berbuah.
Demikian juga dengan rukun melempar jumroh, sesungguhnya itu sebuah isyarat dari Allah agar kita mencari dan melemparkan pada iblis kembali , beberapa sifat yang tercela yang bercokol dihati dan pikiran kita ( batu-batu ), yang mana sifat² tersebut telah kita adopsi atau ditanamkan oleh iblis sebelumnya dan perlu dipahami dengan pasti bahwa dalam ajaran Islam itu suci dan terbebas dari ritual dan peyembahan atau pengkultusan terhadap benda atau makhluk lainnya. kadangkala, Allah membuat perumpamaan yang nyata bagi manusia sebagai sarana untuk mengingatkan dan pelajaran, bukan sebagai objek penyembahan atau pengkultusan, manusia itu mulia karena akalnya dan orang yang berakal tentu hanya mau menyembah dan berharap kepada yang menciptakan akal tersebut, bukan menyembah dan berharap pada sesuatu yang tidak berakal atau akal-akalan manusia lain ,tetapi adakah yang mau mengambil pelajaran ?
0 komentar:
Poskan Komentar