Ajaran yang paling mendasar dalam Agama Islam ialah : Adanya pengucapan atas suatu pengakuan atau persaksian (bersyahadat), Barulah seseorang itu diakui beragama Islam dan sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. Ketika seseorang telah berikrar dalam satu pengakuan atau persaksian yang diucapkannya dengan sadar, mengerti dan memahami yaitu Asyhadu an Laa Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah. Inilah sebagai pintu gerbang keber-Islaman seseorang yang baru dimasukinya Jika keliru dalam memasuki pintu ini maka yang terjadi adalah “ Terkesan jasadnya saja yang memasuki pintu itu namun pikiran dan hatinya masih diluar gerbang atau terkesan jasadnya saja yang Islam namun hati dan pikirannya masih ragu – ragu atau kafir (ingkar).
Orang² yang demikian ini hanya mengutamakan pembangunan2 fisik atau kesalehan jasad saja serta simbol² untuk menampilkan keberIslaman mereka namun pikiran dan hatinya penuh perseteruan yaitu keragu²an dan keingkaran pada Allah dan RasulNya serta keserakahan dan kedengkian antar sesama. Dengan demikian dapat dipahami nenek moyang atau orangtua yang beragama Islam tidak lantas anaknya otomatis beragama Islam, sampai anak tersebut juga bersyahadat dengan ucapan yang sama, untuk itulah makanya ucapan syahadat ini diperintahkan supaya diucapkan ketika anak baru lahir atau menjelang sakratul maut dan diulang² dalam setiap azan, shalat, dll. Agar dipahami dan meresap kedalam hati seperti air, meresap ketanah yang keras lagi tandus dan menyuburkannya
Bersaksi atau menjadi saksi dengan satu ucapan yang tidak dimengerti artinya atau dipahami maksudnya adalah suatu hal yang keliru. Karena orang yang diangkat sebagai saksi dipengadilan saja harus mengetahui atau menyaksikan permasalahan kesaksiannya minimal dia mengerti permasalahan bukan hanya sekedar mengucap² saja, seseorang yang benar² menyaksikanlah yang dapat diambil persaksiannya dan dapat memberikan bukti² atau dalil² dari ucapan persaksiannya.
Umpama : Jika seseorang menjadi saksi lalu mengucapkan Asyhadu an Laa Ilaha Illallah yang bermakna “ Aku bersaksi “bahwasanya Tidak ada Tuhan selain Allah. Maka seseorang tadi harus bisa membuktikan atau menampilkan dalil² bahwa tidak ada yang berhak disebut Tuhan selain dari Allah, namun dia juga harus terlebih dahulu mengerti, memahami serta bisa menjabarkan apa arti atau maksud dari kata “ Tuhan” ? sebelum menyebut Allah dengan kata Tuhan , Apakah itu sebuah nama dari satu zat, atau gelar terhadap seseorang atau sesuatu, atau itu hanya sebuah kata benda, atau sebuah kata yang diciptakan penjajah dengan tujuan pengembangan suatu agama, sebuah kata yang dijadikan gelar pada seorang manusia sehingga menjadi hilang kemanusiaannya, yang mana boleh jadi, tanpa suatu ” kata/nama ” yang direkayasa sesuai dengan bahasa daerah yang menjadi target ! lalu disosialisasikan, maka agama tersebut tidak bisa berkembang atau kemudian kehilangan akidah atau doktrinnya, kemudian diwarisi turun temurun, lalu diambil, diangkat dan disosialisasikan untuk pencapaian dari suatu tujuan politik untuk persatuan dan kebersamaan, dll. Lagipula kata Tuhan itu bersifat lokal dan tidak universal. Jelas, seseorang yang bersaksi harus terlebih dahulu memahami kata² yang dipersaksikannya dan tujuannya. Karena bisa jadi dia mengigau atau saksi palsu / dusta / keliru. Apalagi menujukan kata Tuhan itu pada Allah . Padahal Allah memiliki Asma ul Husna sendiri yang hanya pantas ditujukan hanya untuk diriNya saja, Qs;Yusuf 40 (Kamu tidak mengabdi yang selain Allah, kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menghamba selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ). Qs; Az Zumar 45 (Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati). sementara Allah sendiri tidak pernah menurunkan keterangan tentang itu dan Nabi pun tidak pernah menyuruhnya, Siapa yang akan menjadi penanggungjawabnya ? Kenapa untuk yang ini kita tidak mengikuti sunnah Nabi dengan menyebut Allah dengan Rabb, Illahi ,Ar Rahmaan, dll. Bukankah dengan demikian lebih nyata dan eksklusif keIslaman kita dan lebih lurus jalan kita, lagi pula Nabi sendiri, kan yang menjadi penanggung jawabnya. Perlu dipahami baik² bahwa Allah hanya memberikan Asma²Nya saja pada kita dan tidak ada satupun kita yang bisa melihat atau membayangkan ZatNya atau wujudNya . Maka untuk ini kita harus berhati² dengan Asma2 yang ditujukan pada Allah karena bisa jadi musryik ,karena yang dimaksud dengan syirk kepada Allah itu diantaranya adalah mensekutukan Zat, Nama², maupun Sifat² Allah, karena bagi Allah semua itu bersifat permanen (abadi) lagipula sarana yang paling efektif bagi iblis untuk menyesatkan manusia adalah dengan melalaikan asma² yang datang dari Allah dengan asma² baru yang dipopulerkan meski tanpa makna yang jelas atau akar kata , kata yang disakralkan dan dikultuskan, atau apakah kita boleh memberi gelar² baru kepada Allah menurut semau kita?
Perlu diketahui dalam ajaran agama Islam tidak dikenal toleransi dalam beragama (Akidah dan Ibadah) namun demikian agama Islam sangat menjujung tinggi toleransi kemanusiaan dan bisa memahami dan menghargai makna perbedaan guna saling mengenal.
Demikian juga jika ada seseorang yang bersaksi “Asyhadu an Laa Ilaha Illallah” Yang bermakna “Aku bersaksi Tidak ada Penguasa (Yang Kuasa) kecuali Allah. Maka dia juga harus bisa membuktikan bahwasanya selain yang bernama Allah tidak ada yang berkuasa di Alam semesta ini dan dia juga harus bisa menampilkan dalil² dan bukti² serta bertanya kepada setiap orang “Apakah Nama² yang disembah dan dipuja-puji orang dan dianggap berkuasa menolong mereka selama ini sehingga mereka rela mengabdi (menghamba) padanya, selain dari yang bernama Allah itu memiliki kekuasaan dialam semesta ini ? misalnya: berkuasa untuk hidup terus menerus tanpa mengantuk dan tidur serta tidak pernah mati, atau berkuasa menjadikan serta menumbuhkan bibit² yang ditanam manusia untuk makanan selama ini atau menurunkan hujan, atau berkuasa menciptakan bumi, bulan, matahari atau apa saja yang ada dialam semesta ini guna kepentingan manusia serta memeliharanya, atau mampu menciptakan manusia dengan segala keunikan dan keingkarannya, dan mana buktinya ?
Dan setiap orang juga diberi kesempatan untuk mencari dan meneliti di kitab suci masing². jika selain dari yang bernama Allah itu ternyata tidak ada yang berkuasa berbuat demikian, maka jelaslah dapat dipahami mengapa dia mengucapkan “Tidak ada Penguasa (Yang Kuasa) kecuali Allah” Maka secara otomatis dia akan berikrar dengan mengucapkan “Iyyaaka na`budu wa Iyyaa ka nasta`in Ihdinash shiraathal mustaqiim, yang maknanya : Hanya kepadaMu kami mengabdi (menghamba) dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami kejalan yang lurus . Karena hanya Allah yang berkuasa memberi pertolongan dan petunjuk juga menyiksa dan menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya. Tanpa ada yang mampu mencegah.
Umpama mereka yang tengah berjalan di Shiraathal mustaqiim (Jalan yang lurus) keadaannya ialah: Ketika mereka menoleh kebelakang akan terlihat darimana mereka, juga alam semesta ini berawal dan untuk apa semua ini diciptakanNya,serta mereka juga bisa melihat pintu-pintu alam yang telah mereka lalui, ketika mereka menoleh kedalam dirinya maka pahamlah mereka dialam mana mereka berada juga amanah apa yang diembankan Allah kepada manusia yang harus dijaga dan ditunaikannya dan ketika mereka menatap lurus kedepan maka akan terlihat jelas pintu-pintu yang akan mereka lalu dan tujuan dari perjalanannya tanpa penghalang, yang mana demikian ini tidak akan terlihat / dipahami oleh orang² yang berjalan di jalan yang dimurkai atau tersesat, kecuali hanya melihat diri dan kepentingan² pribadi mereka saja. Orang² demikian ini juga cenderung melihat jalan² agama yang dimana mereka seharusnya dapat meraih keampunan dan keridhaan Allah, tetapi mereka justru melihatnya sebagai jalan² untuk mencari harta dan kedudukan bukan jalan pengabdian dengan keikhlasan, lagipula , mustahil kita dapat menggapai keampunan dan keridhaan Allah jika kita sendiri tidak ridha dan malah mencari keuntungan dunia dalam mengamalkan dan menolong agama yang diridhaiNya ini, yaitu Islam !
Dan dia juga telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa selain dari Allah, semua adalah makhluk yang tidak berdaya, mati dan musnah. Tidak memiliki kekuasaan apapun baik dibumi maupun dilangit. Kecuali hanya sekedar mengaku² saja dan orang² yang merasa memiliki kekuasaan sendiri diluar kekuasaan Allah, sesungguhnya mereka itu tengah menderita hidup sempit dan akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Karena mereka telah lupa diri dan lupa pula pada Penciptanya, dia juga akan menghimbau dengan mengatakan “ Qul huwallahu ahad, Allahu shamad “ katakanlah “ Dialah Allah Dia Tunggal. Allah Dia Shamad (Tujuan segala harapan)” . Karena hanya Dia sajalah yang memiliki kekuasaan tanpa batas untuk berbuat apa saja yang dikehendakiNya sedangkan selainNya hanyalah ciptaanNya yang melaksanakan apa yang dikehendakiNya lalu mati dan juga, Allah ! Dia tidak punya istri apalagi anak ? dan tidak ada satupun yang seumpama denganNya dan suci dari apa yang dipikirkan dan reka² manusia tentangNya.
Bahwa sudah menjadi sifat dasar setiap manusia untuk meminta pertolongan dan berharap pada sesuatu yang dianggap lebih berkuasa dari padanya. Jika ada manusia yang meminta pertolongan dan berharap pada seseorang atau sesuatu yang sama lemahnya atau lebih lemah dari dirinya, jelas manusia tersebut telah mati kemanusiaannya
Dengan dipahami dan dapat dibuktikan kebenaran makna Syahadat (persaksian) pertama ini maka dapat dibenarkan pula Syahadat atau persaksian kedua yang menyatakan Muhammad itu adalah Rasul Allah / Utusan yang berakhlak mulia yang meyampaikan kebenaran dari Allah Yaitu Al Qur`an yang berisi surat² dari Pencipta dan Pemilik alam semesta dan segala isinya ini dan Muhammad Saw sebagai pelopor Agama Islam yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya, yang menjadi contoh seorang yang sempurna kemanusiaannya bukan manusia setengah hewan atau manusia setengah setan, , Seorang jujur yang menyampaikan kebenaran dari Allah, yang telah menyaksikan keberadaan Allah dan kekuasaanNya. Ini mengingatkan kita untuk tidak ragu dengan apa yang disampaikannya. dia tidak melihat Zat Allah tapi Allah itu ada dan senatiasa melihat seluruh ciptaanNya. Sebenarnya tidak ada satupun mahkluk yang pernah diciptakan Allah yang pernah melihat wujudNya (ZatNya), namun sudah menjadi fitrah setiap manusia berkeinginan sangat untuk melihatNya, menatapNya agar dapat berterima kasih, memuji atau menyembahNya langsung. hal yang demikian ini sangat dipahami oleh Iblis dan orang dekatnya, maka direkayasalah wujud apa saja, atau siapa saja, atau paham apa saja sebagai gambaran dalam upaya untuk menghadirkan Pencipta alam semesta ini atau yang mewakiliNya, sehingga manusia dapat langsung melihat dan menyembahnya, atau seperti yang mereka katakan hanya sebagai “ alat konsentrasi “, namun ketahuilah, pada hakikatnya apa yang mereka sembah dan pujapuji itu adalah justru gambaran dari keadaan diri para penyembah itu sendiri. inilah salah satu karya besar pembodohan dan penyesatan yang menakjubkan dari kebohongan Iblis laknat tersebut yang dapat kita saksikan hingga saat ini.
Muhammad SAW adalah seorang yang menyampaikan peringatan dan pelajaran dari Pencipta alam semesta ini, yang mana didalam ajarannya tidak diperlukan lagi perbaikan² karena telah sempurna keadaannya, juga prilaku² yang dipercontohkannya serta ucapan² yang disabdakannya begitu elegan dan bertanggung jawab serta sarat dengan konsep logika untuk kemaslahatan, persatuan dan kedamaian yang hakiki dan abadi dibumi ini juga akhirat, serta membebaskan penghambaan dan pengharapan manusia terhadap sesama mahkluk atau kebendaan kecuali kepada Pemilik alam semesta ini ( Rabbulallamiin ).
Justru yang dibutuhkan hanyalah pengkajian yang lebih teliti, penyeterilisasian (pemurnian) dari hal² yang telah terkontaminasi serta penyegaran kembali. Perlu dipahami bahwa Al Qur`an itu: Buku Pelajaran. Buku (kitab) yang menerangkan apa yang tidak kita ketahui dan apa yang ingin kita ketahui. Tidak akan menyesatkan bagi orang² yang ingin memahaminya. Tidak memberatkan bagi orang yang ingin mengamalkannya justru meringankan apa yang telah diberat²kan orang. Didalamnya hanya ada kebaikan² lagi memperbaiki. Tidak ada yang enggan atau takut untuk memahami Al Qur`an kecuali setan, Itupun disebabkan karena dosa² yang telah diperbuatnya dan masih banyaknya keinginan² buruk yang hendak mereka kerjakan kedepan, itulah yang menghambat mereka untuk memahami dan merenungi Al Qur`an juga menghambat orang lain untuk memahaminya dan setiap setan² itu sadar akan hal ini. Ingatlah Al Qu`ran itu surat² dari Pencipta alam semesta ini yang ditujukan pada setiap manusia yang ingin mensucikan jiwa dan memperbaiki akhlaknya dan sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidupnya didunia ini maupun setelahnya, sebagai pengetahuan yang melenyapkan kebodohan dan kesesatan umpama sebagai penerang dalam kegelapan, penolong dalam keterpurukan, pemberi semangat dalam keputusasaan.
Demikian juga dengan setiap ibadah atau ritual² serta hukum (aturan)² dalam semua ajaran² Islam pasti memiliki tujuan² atau sasaran yang ingin dicapai yang berujung pada ketaqwaan (kebaktian) atau suatu perbuatan yang dikerjakan atas dasar kerelaan dan kesetiaan (loyalitas) mutlak hanya pada Allah saja, serta menumbuhkan sifat² kedamaian, keakuran serta kasihsayang yang hakiki pada jiwa dan raga setiap penganut Agama Islam, sebab jika melaksanakan atau menyelenggarakan sesuatu tanpa terlebih dahulu memahami tujuannya pasti akan menimbulkan efek sebaliknya yang justru bertentangan dengan tujuan yang ingin dicapai, bahkan bisa menimbulkan kemunafikan serta fitnah demi fitnah terhadap Allah dan RasulNya. Perlu disadari mustahil dapat diharapkan suksesnya pelaksanaan syariat kalau tidak didahulukan penanaman keimanan dan akidah yang benar sebagai sumber keikhlasan dan kepatuhan.
Dan perlu diketahui Pencipta, Pemilik sekaligus Penguasa alam semesta dan segala isinya ini telah menetapkan bahwasanya : NamaNya Allah dan menetapkan atas ZatNya sifat Pengasih lagi Penyayang (Bismillaahir Rohmaanir Rohiim) dan Allah juga telah menetapkan atas iblis sifat Keingkaran (ketidak patuhan) , Keserakahan (tidak merasa cukup / bersyukur dan keinginan untuk menguasai hak orang lain dengan bathil). dan Kedengkian (tidak bisa menerima, dan ingin menjatuhkan / menghancurkan). Inilah yang menjadi sifat dasar iblis juga sifat orang² yang mengikuti jalannya. yang mana sifat² tercela tersebut dianggap dalam agama/ajaran lain sebagai dosa warisan yang dapat ditebus dengan (umpama) meminum dan memakan darah dan daging dari pengorbanan seorang manusia dengan cara penyiksaan, penyaliban dan pembunuhan. padahal bagaimana mungkin,! justru itu mencontohkan perbuatan orang² yang ingkar, serakah dan kedengkian yang melampaui batas terhadap seorang yang justru mengajarkan kasih sayang , atau dapat ditebus dengan uang atau harta, dll, tapi itu semua mustahil kecuali dengan kesadaran sendiri yang hakiki (taubat) niat yang kuat dan tulus serta ibadah² yang diamalkan secara kontiniu dengan pemahaman yang benar.
Sifat keingkaran pada Allah , serakah dan pendengki inilah yang menjadi penyebab iblis menjadi mahkluk terkutuk dan juga menjadi penyebab terusirnya Adam dan Hawa dari syurga dan sifat² ini pulalah yang menjadi awal seluruh kerusakan dan pertumpahan darah dimuka bumi ini, yang terjadi pada diri sendiri, keluarga , warga, negara dan dunia juga kerusakan pada ilmu agama dan ilmu pengetahuan dan sifat ingkar pada Allah, serakah dan pendengki adalah syarat mutlak untuk menjadi penghuni neraka. karena berkumpul dengan orang² serakah dan pendengki didunia ini saja terasa bagai dineraka.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa seluruh ajaran agama Islam dan rukun²nya bertujuan mendidik penganutnya untuk patuh pada Allah dan menanamkan sifat kasihsayang yang hakiki dihati setiap penganut agama Islam sebagai syarat mutlak untuk menjadi calon penghuni syurga, (tapi bukan seperti kasih sayangnya seorang koruptor pada keluarganya, karena itu adalah keserakahan dan kedengkian yang tersembunyi dibalik kasihsayang terhadap diri dan keluarganya). untuk itulah dijadikan bumi ini sebagai tempat untuk melenyapkan sifat2 tercela tersebut secara sukarela dan permanen. karena mustahil orang serakah dan pendengki dapat lolos kesyurga kecuali dibersihkan/ dibakar dahulu secara paksa dineraka, karena syurga itu hanya diijinkan bagi orang² yang patuh pada Allah dan berkasih sayang antar sesama. itupun kalau orang tersebut tauhidnya benar (tidak mensekutukan Allah) namun biasanya orang yang tauhidnya benar secara otomatis akan hilang sifat serakah dan kedengkiannya karena dia telah mengenal Allah.
Cobalah renungkan bahwasanya kehidupan setiap orang dimuka bumi ini ibarat kuli kontrak yang bekerja keras untuk mendandani dan menghiasi bumi dengan berbagai karya untuk kepentingan dan kemegahan bumi ini dan hanya mendapat kenikmatan dan penderitaan sesaat dan silih berganti sebagai upah atas jerih payahnya, jika habis masa kontraknya akan dipaksa pulang suka atau tidak suka, tanpa boleh membawa satu barang apapun yang selama ini dikuasainya atau dianggap miliknya bahkan jasadnya sendiri. Pulang untuk diminta pertanggung jawaban dari hasil kerjanya juga kesetiaannya kepada Pemilik alam semesta ini . untuk mendapat upah dariNya yaitu kenikmatan abadi atau penderitaan abadi sebagai balasan, yang selamat hanyalah orang yang setia serta berbakti (bertaqwa) kepada Allah dan mengadopsi sifat kasihsayangNya.
Perlu dimengerti agama tidaklah mungkin dijadikan negara dan negarapun tidak bisa dijadikan agama karena agama dan negara memiliki basic yang berbeda, negara memiliki batas wilayah sedangkan agama tanpa batas , negara dipelopori oleh banyak orang dan hukum²nya dapat berubah sesuai jaman sedangkan agama dipelopori oleh seorang dan hukum²nya tidak dapat dirobah². negara sarat dengan politik kepentingan dan merebut kekuasaan sedangkan agama justru sebaliknya saling berbagi dan memberi kesempatan lagipula kebobrokan oknum² dari satu negara dapat mencemarkan kemuliaan dan kesucian agama jika keduanya dipadukan. Namun jikalau suatu negara mengadopsi hukum² agama yang diyakini serta ditelaah ternyata hukum² tersebut dapat membawa kebaikan dan kedamaian serta kemakmuran buat negara tersebut, itu bukanlah berarti negara tersebut sudah menjadi negara suatu agama. misalnya negara Indonesia mengadopsi hukum negara belanda bukan berarti indonesia itu menjadi negara belanda, dengan demikian jadi tidaklah perlu untuk terlalu berburuk sangka.
Demikian juga dengan kekhalifahan Islam, sesungguhnya Allah telah mempersiapkan dari dahulu kala dua buah tempat yang disucikanNya serta dijagaNya juga dijadikan pusat untuk menghadapNya sebagai tatapan, ratapan dan harapan seluruh umat Islam didunia serta dialirkan dan dikumpulkanNya rezeki dari orang² yang mampu dari seluruh penjuru bumi ke daerah itu agar sebagian digunakan untuk kepentingan / kepedulian terhadap Agama dan umat Islam didunia, karena dari sanalah kekhalifahan itu berawal dan dari sana juga kekhalifahan Islam akan kembali muncul sebagai pemerhati dan pemersatu umat Islam didunia , hanya mungkin mereka belum menyadari sepenuhnya hikmah2 dibalik semua ini. karena akhir dari segala sesuatu akan kembali keawal (tujuan) dan Allahpun tidak akan memerintahkan sesuatu yang sia² pada kita , kecuali untuk pelajaran dan kemaslahatan untuk manusia itu sendiri.
Jika kita berbicara tentang, kapan terwujudnya kemenangan Islam ? sebenarnya jawabannya sudah Allah isyaratkan dalam azan atau qamat. Dimana disebutkan disitu bahwa Allah Dia Besar jadi umat Islam tidak perlu takut karena selainNya kecil. lalu umat Islam diperintahkan meluruskan Tauhid dengan Asyhadu an Laa Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah dengan satu komitmen PadaMu Allah kami berjanji, Padamu Allah kami mengabdi, PadaMu Allah kami berbakti (bertaqwa) dan Bagimu Allah jiwa raga kami. Inna lillahi wa inna illahi roji’un serta memperkuat komitmennya untuk menerapkan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari² seperti jujur, amanah, dll. Kemudian mengerjakan shalat dengan sungguh² . Cuma yang menjadi pertanyaan, mengapa begitu banyak kita yang mengerjakan shalat namun tidak tercegah dari perbuatan keji dan mungkar bahkan kian menjadi² kekejian dan kemungkarannya ? Apakah shalat yang kita kerjakan selama ini seperti shalatnya orang mabok, gila, anak² ?. merujuk yang difirmankan Allah dalam Qs; An Nisaa 43 “(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,…) atau shalat supaya sekedar dilihat orang, atau sekedar melepaskan kewajiban. Tapi mengabaikan manfaatnya. Bukankan, yang dimaksud tersesat adalah orang² yang melaksanakan sesuatu atau berjalan namun tidak sampai² kepada tujuan ?
Sabda Rasulullah saw yang bermaksud:" Barang siapa yang shalatnya tidak dapat menahan daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya shalatnya itu hanyalah menambah kemungkaran Allah SWT dan jauh dari Allah SWT." Jika kita berbicara masalah shalat maka indentik dengan berjamaah, dalam shalat berjamaah, maka para imam shalatlah yang dituntut sebagai orang yang pertama yang seharusnya tercegah dari perbuatan keji (menganiaya diri) dan mungkar (menganiaya orang lain) sebagai konsekwensi dari ke-Imam-annya, untuk menjadi orang yang dapat dipercaya 100%. Jadi bukan hanya sekedar mengimami shalat jamaah berulang² untuk mencari kehormatan, uang atau mencari popularitas saja, tapi tidak tau, tidak mau tau, atau pura² tidak tau tujuan shalat yang dipimpinnya dan mengabaikan makmumnya, tetapi para imamlah yang pertama sebagai pelopor tercegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. para imamlah yang seharusnya mencari solusi dan menolong jamaahnya, bukan memanfaatkan jamaah untuk solusi kehidupannya, karena orang² yang memberi lebih tinggi derajatnya dari orang yang menerima ! karena setiap imam akan diminta pertanggungjawaban atas kelalaiannya , yang demikian ini agar makmumnya juga melakukan hal yang sama. sehingga setiap orang akan nyaman, aman dan simpati berada didekat orang Islam, karena tercegahnya mereka dari keteraniayaan orang² yang mengaku Islam. Bukankah disetiap shalat, kita meminta ditunjuki jalan yang lurus ? Tapi pernahkah kita mencari jalan itu ? atau cuma minta waktu shalat saja ,habis itu lalai ?. Bagaimana mungkin Allah akan mempersatukan atau memenangkan orang² Islam, yang mereka sendiri belum bisa tercegah dari perbuatan keji dan mungkar ? jikalau demikian itu terjadi, pastilah akan semakin hancur dan banjir darah dimuka bumi ini. Jadi sadarilah, kemenangan itu hanya bisa terwujud jika umat Islam bisa mensucikan dan mengagungkan Allah, atas ZatNya, NamaNya dan Sifat²Nya serta tercegahnya mayoritas umat Islam dari perbuatan keji dan mungkar ( menganiaya diri sendiri maupun orang lain ) serta mau berbagi rezeki yang diberikan Allah… Insya Allah.!
Sebenarnya perpecahan ini telah meluluhlantakan perjalanan kita, banyak diantara kita melangkah tanpa arah dan tersesat dijalan yang gelap, yang mana akhirnya kita saling menyerang sesama kita juga serangan dari luar atau bagai orang² yang berjalan dalam kepekatan malam tanpa cahaya padahal kita diperintahkan untuk saling menolong dan melindungi. Bukankah azab, bencana serta pembantaian² yang menerpa wilayah² Islam selama ini dapat membuat kita sadar untuk kembali meluruskan dan meneguhkan iman serta merenovasi akhlak kita . menjadi ahklak yang terpuji, Bukankah, Allah juga berjanji akan melimpahkan rahmat, karuniaNya serta memberikan rezeki kepada suatu penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa kepadaNya .
Pensosialisasian tujuan2 ini sangat diperlukan oleh orang2 yang memahaminya yaitu hamba2 yang tidak mengharapkan upah / balasan apapun dari manusia, kecuali keampunan dan keridhaan dari Rabb = (Pemilik/Tuan) nya dan mematuhi hukum2 yang dititahkan Malik (Raja) nya serta menyerahkan jiwa dan raganya hanya pada Illaha = Penguasa (Yang menguasai) nya Yaitu Allah Swt, yang memiliki Asma ul Husna. dan senantiasa ingat dan bersyukur pada Allah Swt, dan berbagi atas karunia yang dilimpahkanNya, mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk. Akhirnya segala urusan kembali kepada Allah karena hanya Dia lah yang paling benar lagi paling mengetahui segalanya. ...Amiin
* Jika tulisan ini dianggap baik dan bermanfaat maka sudilah kiranya tulisan ini disosialisasikan pada pada orang lain sebagai amal ibadah kita dan tulisan ini boleh diperbanyak untuk dakwah Lillaahi Rabbil`allamin
0 komentar:
Poskan Komentar